Bincang Ringan Soal Pasangan Hidup Pendeta JATIPON yang Puas LDR -->

Iklan Semua Halaman

Bincang Ringan Soal Pasangan Hidup Pendeta JATIPON yang Puas LDR

Rabu, 07 Juli 2021

Foto Bersama Pdt. Drs. Semuel Albertus Zacharias Karinda, M.Si di Lokasi Wisata Tetetana, Kumelembuai, Kota Tomohon


Bicara soal rindu, pendeta berpesan; Tuhan selalu punya cara mengobatinya.

 "Romantislah selagi kita diberi kesempatan oleh Tuhan memiliki keluarga yang dekat dengan kita. Soal sifat yang berubah antara istri dan suami itu hal normal. Tinggal kita yang pintar-pintar mengakali pikiran agar romantis itu selalu dihidupkan kembali seperti halnya masih pacaran" 

-Drs. Semuel Albertus Zacharias Karinda, M.Si-

***

"Kalo waktu masih batunangan pasti ngana pernah lia deng rasa, parampuang itu kurang sama dengan kucing. Kong tu laki-laki memang kurang sama sekali dengan buaya," Ucap pendeta sembari tersenyum.

"Kapa bagitu pak pendeta" Tanyaku dengan tawa tapi dahi mengerut.

"Parampuang itu kalo masih batunangan doh memang sama skali dengan kucing. Suka ba manja-manja, imut-imut, senang skali dibelai, suka dilindungi, pokonya gemes skali laki-laki mo lia," Suara pendeta tehenti seperti menarik nafas menahan tawa.

"Kong kalo laki-laki, memang sama dengan buaya. Segala rayuan, gombal ditunjukan, parampuan sampe tunduk romantis" Lanjutnya bikin penasaran apa kesimpulannya.

"Mar serta so kaweng, nn lia jo. Parampuang yang awal sama dengan kucing berubah jadi macang, kong tu laki-laki yang sama dgn buaya jadi cica" Tawanya lepas sampai membuat teman dalam mobil yang tidur kaget bangun.

"Banyak suami tiba-tiba jadi mati bisa pa parampuang setelah so menikah" Pendapatnya.

"Kenapa jadi begitu pak pendeta ?" Tanyaku kembali dengan perasaan tertuduh.

"Yah. Itu hal yang normal. Hampir semua pasangan demikian, sebabnya adalah perempuan lebih dominan rasa, sedangkan laki-laki logika. Perempuan pun setelah menikah memikul tanggung jawab mengurus rumah, anak dan lainnya, tingkat frustrasinya tinggi, itu lah salah satu alasan laki-laki berubah jadi Cicak. Kalo instri so ba telpon suruh pulang, nn rasa kalo nda sengan, dong mamanca" Sindir pendeta yang terdengar seperti ia pun pernah mengalaminya.

Kami berdua tertawa lepas selama perjalanan menuju Kota Mobagu dengan cerita-cerita itu.

Ketika jalan mulai lurus, dan hari semakin larut, pendeta bercerita soal hidupnya. Baik semasa menjejaki karir sebagai vikaris, hingga menjadi pendeta. Bertemu dengan wanita yang juga sama seorang pendeta, menikah dan keduanya ditugaskan di tempat berbeda.

Long distance Relationship (LDR) dirasakannya lumayan lama. Katanya, sangat terasa ketika istri lanjut studi mulai dari Filipina hingga Amerika.

Kedua anak perempuannya pun sejak kecil hingga dewasa tinggal di Amerika. "Melewati hubungan berjarak dengan keluarga, terasa sudah biasa" Kenangnya "Namun hampir setiap hari kami aktif saling video call"

Bicara soal rindu, pendeta berpesan; Tuhan selalu punya cara mengobatinya. "Romantislah selagi kita diberi kesempatan oleh Tuhan memiliki keluarga yang dekat dengan kita. Soal sifat yang berubah antara istri dan suami itu hal normal. Tinggal kita yang pintar-pintar mengakali pikiran agar romantis itu selalu dihidupkan kembali seperti halnya masih pacaran" pesannya.

***
Pdt. Drs. Semuel Albertus Zacharias Karinda, M.Si. Itu nama formalnya ketika saya googling usai berjumpa selama 7 hari dengannya.

Sebagai Ketua Majelis Jemaat GPIB JATIPON, yang melayani hampir 1000 keluarga di Jakarta, tentu tidak layak digolongkan orang biasa.

Apa lagi, mendengar cerita hidupnya, yang sudah melayani hampir seluruh wilayah Indonesia, banyak berjumpa dengan permasalah keluarga yang beragam.

Ditemuinya, masalah keluarga tidak memandang status sosial sesorang. Banyak ia berjumpa dengan keluarga yang hartanya berlimpah tapi hancur karena tidak mampu mengatur hubungan.

Dan yang paling saya kesal adalah bertemu dengan keluarga yang sudah ekonominya menguatirkan lantas mengeluh untuk berpisah.

"So miskin leh kong mo bilang pisah" Seloroh pendeta menitip pesan yang amat dalam.

Komunikasi dengan pendeta Karinda asik dan nyambung. Selain memang orangnya sudah terbiasa melayani, aksen dan pilihan katanya masih kental berbahasa manado.

Tidak heran, beliau ternyata memang kelahiran Tinoor. Ia pria asli Minahasa yang diminta keluarga agar pergi merantau dan kini hidup lama dan melayani di Jakarta.

"Sehat selalu pendeta, semoga dilain waktu kita jumpa lagi"

*H.K. Repi
(Tim Manggis Travel )