Kondisi Pendidikan Indonesia di Masa Pendemik -->

Iklan Semua Halaman

Kondisi Pendidikan Indonesia di Masa Pendemik

Kamis, 11 Februari 2021

 

Pendidikan di Masa Pandemik, Sistem Belajar Daring

Wajah baru pendidikan Indonesia berbeda mencolok semenjak Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, Nadiem Makarim, keluarkan Surat Selebaran Nomor 36962/MPK.A/HK/2020 tertanggal 17 Maret 2020 hal evaluasi secara daring dan kerja di rumah dalam rencana penjagaan penyebaran Corona Virus Disease (Covid-19).

Konsep peraturan di masa pandemi ini terang memprioritaskan keselamatan dan kesehatan peserta didik, tenaga pendidik, orang tua siswa, dan semua warga pada umumnya.

Pemerintahan tidak ingin mengambil risiko penyebaran Covid-19 dengan memilih untuk mengganti sistem pembelajaran yang sejauh ini secara tatap muka, menjadi proses pembelajaran yang dilakukan secara daring.

Pembelajaran secara daring, diharapkan anak-anak dalam kegiatan belajar menggunakan akses internet. Untuk mengerjakan tugas bisa melalui jaringan internet. Diharpakan semua civitas sekolah tinggi dituntut untuk menyesuaikan dan meningkatkan inovasi-inovasi evaluasi dalam hadapi masa pandemi covid-19 yang kita belum tahu kapan berakhirnya.

8 bulan lamanya sistem pendidikan sudah kita lewat i melalui proses belajar secara daring. Bermacam masalah pasti sudah kerap kita dengar karena model evaluasi yang berasa asing untuk dunia pendidikan di Indonesia. Peserta didik sudah pasti jadi subyek yang paling terimbas adanya pengubahan yang terjadi. Cukup banyak pelajar mengeluh, bahwa belajar secara daring ini jauh dari kata efisien.

Keluh kesahnya sudah pasti mereka tidak dapat pahami dengan jelas materi yang diberi. Beberapa pelajar terhalang signal yang jelek, paket atau pulsa, dan gawai yang tidak mencukupi.

Penulis kerap menyaksikan di sosial media beberapa pelajar yang berkeluh kesah karena pekerjaan sekolah yang diberi sangat banyak, walau sebenarnya pekerjaan yang banyak ini belum pasti searah sesuai dengan pengetahuan materi dari beberapa pelajar tersebut, bahkan bisa saja mengakibatkan beberapa pelajar tertekan.

Belum juga keadaan sekarang ini yang mewajibkan seluruh orang untuk kurangi hubungan sosial dan ikut protokol kesehatan. Ini sudah pasti mempengaruhi psikis peserta didik.

Beberapa orangtua pelajar menyalahkan hal yang sama. Pada keadaan semacam ini beberapa orang yang kesusahan ekonomi dimulai dari menyusutnya penghasilan sampai Pemutusan Jalinan Kerja (PHK) di lain sisi mereka dituntut untuk penuhi keperluan operasional pendidikan anaknya seperti pengeluaran untuk paket internet sampai keperluan handphone yang ideal untuk proses belajar.

Kondisi semacam ini harus selekasnya diperhitungkan untuk mendesak angka putus sekolah. Di tahun 2019, empat dari 1.000 anak Sekolah Landasan (SD) putus sekolah dan makin besar pada tingkatan Sekolah Menengah (SM)/sederajat di mana 18 dari 1.000 anak alami putus sekolah (sumber: Tubuh Pusat Statistik, Survey Sosial Ekonomi Nasional Maret 2019).

Tidak cuman beberapa peserta didik dan orangtua pelajar yang rasakan kesusahan akan pendidikan di masa pandemi ini, guru yang disebut pengajar berasa kerepotan karena proses dalam meningkatkan evaluasi membutuhkan ketrampilan tertentu dalam memakai piranti computer atau telephone pandai (handphone). Cukup banyak guru yang belum melek pada perkembanan tehnologi, hingga menghalangi pada proses PJJ.

Memang, jika diambil segi positifnya, wabah ini jadi momen untuk dunia pendidikan Indonesia dalam membenahi kwalitasnya diantaranya dengan pemakaian tehnologi sebagai pengiring evaluasi pelajar. Namun, apa pendidikan Indonesia siap dalam hadapi alih bentuk evaluasi yang sebelumnya memakai langkah konservatif jadi serba online ini?

Pada umumnya, persoalan fundamental proses dari PJJ ini ialah tersedianya infrastruktur dan kualitas pendidikan. Persiapan fasilitas dan prasarana, standard hasil evaluasi yang rancu, dan tersedianya sambungan seperti koneksi internet dan gawai yang ideal jadi kendala khusus.

Jangankan koneksi internet untuk terhubung evaluasi jarak jauh, ada banyak siswa di penjuru negeri ini yang masih belum memperoleh akses listrik. Kualitas evaluasi jarak jauh ini jadi perhatian. Minimnya hubungan di antara siswa dan guru di masa pandemi jadi salah satunya pemicu yang dicemaskan bisa jadi memperburuk kualitas pendidikan.

Pemerintahan lewat Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sudah membuat bermacam peraturan dalam hadapi pendidikan di masa pandemi ini. Dimulai dari paket internet gratis untuk pelajar dan guru, program Belajar dalam Rumah lewat tayangan tv nasional TVRI, dan keluarkan tutorial evaluasi untuk beberapa daerah yang ada pada zone Hijau untuk melakukan evaluasi bertemu muka dengan masih mengikut prosedur kesehatan yang ketat sekali.

Peraturan PJJ kelihatannya masih terus akan dikerjakan sebagai alternative terbaik untuk mengadakan penerapan evaluasi di periode Wabah Covid-19. Karena bagaimana juga, keselamatan dan kesehatan semua peserta didik dan pengajar adalah hal yang paling penting.


Namun membutuhkan pembaruan kembali hingga faedahnya bisa dirasa oleh peserta didik. Kita mengharap supaya wabah ini selekasnya usai dan pendidikan bisa berjalan kembali normal seperti yang lalu.


Evaluasi di Periode Wabah Covid-19

Sesudah timbulnya pandemi Covid-19 di belahan bumi, mekanisme pendidikan mulai cari satu pengembangan untuk proses aktivitas belajar mengajarkan. Ditambah ada Surat Selebaran no. 4 tahun 2020 dari Menteri Pendidikan dan kebudayaan yang menyarankan semua aktivitas di lembaga pendidikan harus menjaga jarak dan semua pengutaraan materi akan dikatakan di dalam rumah semasing.

Apa sich sistem evaluasi itu? Kepala Dinas Pendidikan Kab. OKU, H. Teddy Meilwansyah, S.STP., MM. menerangkan jika ada banyak sistem yang bisa digunakan, salah satunya :


1. Proyek Based Learning

Sistem proyek based learning ini diprakarsai oleh hasil implementasi dari Surat Selebaran Mendikbud no.4 tahun 2020. Proyek based learning ini mempunyai arah khusus untuk memberi training ke siswa untuk semakin dapat bekerjasama, bergotong-royong, dan empati dengan sama-sama.

Sistem proyek based learning ini benar-benar efisien diaplikasikan untuk beberapa siswa dengan membuat barisan belajar kecil dalam kerjakan projek, uji coba, dan pengembangan. Sistem evaluasi ini sangat pas untuk siswa yang ada pada zone kuning atau hijau. Dengan jalankan sistem evaluasi yang ini, tentu saja harus juga memerhatikan prosedur kesehatan yang berjalan.


2. Daring Metode

Sistem ini manfaatkan jaringan online, dan dapat membuat beberapa pelajar inovatif memakai sarana yang ada, seperti membuat content dengan manfaatkan beberapa barang di seputar rumah atau kerjakan semua aktivitas belajar lewat mekanisme online. Sistem ini benar-benar pas diaplikasikan untuk siswa yang ada pada teritori zone merah. Dengan memakai sistem full daring semacam ini, mekanisme evaluasi yang dikatakan tetap berjalan dan semua siswa masih ada di dalam rumah setiap pada kondisi aman.

3. Luring Metode

Luring metodee ialah mode evaluasi yang dilaksanakan di luar jaringan. Dalam pengertian, evaluasi yang ini dilaksanakan secara bertemu muka dengan memerhatikan zonesi dan prosedur kesehatan yang berjalan. Sistem ini benar-benar cocok buat siswa yang berada di daerah zone kuning atau hijau khususnya dengan prosedur ketat new normal.

Dalam sistem yang ini, pelajar akan diajar secara bergiliran (shift mode) supaya menghindar keramaian. Mode evaluasi Luring ini dianjurkan oleh Mendikbud untuk penuhi peringkasan kurikulum selama saat genting pendemi ini.

Sistem ini direncanakan untuk mengakali pengutaraan kurikulum supaya tidak begitu susah saat dikatakan ke pelajar. Disamping itu, evaluasi yang ini dipandang lumayan baik untuk mereka yang kurang atau mungkin tidak mempunyai fasilitas dan prasarana yang memberikan dukungan untuk mekanisme daring.

4. Home Visit Metode

Home visit adalah salah satunya pilihan pada sistem evaluasi saat wabah ini. Sistem ini serupa seperti aktivitas belajar mengajarkan yang dikatakan saat home schooling. Maka pendidik melangsungkan home visit ke rumah siswa dalam kurun waktu tertentu. Dengan begitu, materi yang akan dikasih ke pelajar dapat tersampaikan secara baik, karena materi pelajaran dan pekerjaan langsung terwujud secara baik di bawah tuntunan guru.

5. Integrated Curriculum

Sistem ini makin lebih efisien jika mengarah pada proyek base, yang mana tiap kelas akan diberi projek yang berkaitan dengan mata pelajaran berkaitan. Dalam sistem ini bukan hanya mengikutsertakan satu mata pelajaran saja, tetapi menyangkutkan materi evaluasi dari mata pelajaran yang lain.

Dengan mengaplikasikan sistem ini, kecuali siswa yang lakukan kerja sama dalam kerjakan projek, guru lain dikasih peluang untuk melangsungkan tim teaching dengan guru pada mata pelajaran yang lain. Integrated curriculum dapat diterapkan untuk semua siswa yang ada di semua daerah, karena sistem ini akan diaplikasikan dengan mekanisme daring. Jadi penerapan integrated curriculum ini dipandang benar-benar aman untuk siswa.


6. Blended Learning

istem blended learning ialah sistem yang memakai dua pendekatan sekalian. Dalam pengertian, sistem ini memakai mekanisme daring sekalian bertemu muka lewat video converence. Maka walau siswa dan pendidik lakukan evaluasi dari jauh, ke-2 nya bisa berhubungan keduanya. Sistem ini efektf untuk tingkatkan kekuatan kognitif beberapa siswa.

7. Evaluasi lewat Radio

Evaluasi lewat radio jadi pengembangan evaluasi masa pandemi covid-19 di kabupaten Ogan Komering Ulu. Sistem ini adalah kerja sama Dinas Pendidikan kabupaten Ogan Komering Ulu dengan Radio Sukses yang disebut radio pemda.

Sistem ini jadi salah satunya langkah dalam menangani kesusahan koneksi internet dan jalan keluar untuk orangtua pelajar yang tidak mempunyai telephone pandai (smart phone). Evaluasi dilaksanakan oleh guru yang mumpuni bersama pelajar sebagai mode dan interaktif bersama pelajar sebagai pendengar. Untuk tingkatan PAUD dikerjakan tiap hari Rabu dengan mekanisme CERIBEL (Narasi Sekalian Belajar), tingkatan SD tiap hari Selasa, dan jenajng SMP tiap hari Sabtu.

Ingat pandemi wabah covid-19 yang tidak paham tentu kapan usainya, sistem evaluasi tersebut dapat jadi pilihan untuk beberapa peserta didik, guru dan sekolah supaya aktivitas belajar mengajarkan tetap berjalan.


Sumber: Kumpulan Artikel