Operasi Ditunda, imanku: Waktu Tuhan Selalu Terbaik

Iklan Semua Halaman

Operasi Ditunda, imanku: Waktu Tuhan Selalu Terbaik

Kamis, 12 Maret 2020
Periksa kandungan istri di Rs. WM Teling, 11 Maret 2020 (@doc.heskihendom.com)

Pagi ini, suara burung berkicau merdu. Kicau mereka berlahan menggiring ingatan.

Ingatan ucapan teman, melintas. Teman yang kini sudah menjadi pimpinan di salah satu instansi besar.

"Tebalkan hati dan telinga, fokus saja kepada apa yang menurut hatimu baik untuk diutamakan. Dan jangan menyalahkan siapa-siapa. Setiap keputusan ada resiko" kalimatnya.

Temanku pernah berbagi kisah, telah melewati perjuangan berhadapan dengan orang-orang yang tak mudah percaya akan apa yang ia perjuangkan. Ia pernah meminta restu atasan agar ia dapat surat rekom(sewaktu ia menjadi bawahan), di tolak.

Bahkan terkesan dipersulit. Lingkungan kerjanya pun tanpak tidak mendukung. Ia tidak marah. Yang ia pikirkan, satu hal: Fokus saja. Dan tuntaskan keputusan yang sudah diperjuangkan.

Waktu bergulir, berkat restu pencipta, apa yang ia yakini menghantarnya pada posisi lebih tinggi. Pada tanggung jawab yang labih tinggi. Dan sampai kini, ia sanggup menjalani. Bahkan sekarang ia sedang bersiap diri, dipromosi jabatan lebih tinggi.

Kemudian, ada momen, orang-orang yang pernah menjadi penghalangnya dulu, tiba-tiba datang. Meminta bantuan saat ia sudah menjadi pemimpin.

Meminta bantuan karena ada hubungan dengan keputusan instansi yang ia pimpin. Ia lantas tidak dendam kepada orang itu.

Ia tetap profesional. Ia arahkan, dan menggiring mereka agar mengikuti prosedur. Ia pemimpi yang disegani di tempat itu.

Saat ku tanya "Apa yang membuat Anda yakin ?" Jawabnya santai "Karena setiap keputusan ada hati yang bersih tulus. Tidak di buat-buat. Ada tujuan mulianya"

"Hanya permasalahnya, tidak semua orang mengetahui isi hati kita. Tak mau tau tujuan baik kita. Jadi, jangan salahkan siapa-siapa" Sambungnya "Orang yang berhati baik adalah pemimpin yang baik"

***

Matahari  menyambar pelipis mata. Ku terbangun dari hayalan "Hebat. Ia sukses sekarang" hatiku memuji.

Ku lihat jam dinding rumah. Pagi segera berganti siang. Sepenuhnya sadar. Tangan belum memeluk bayi. Di tambah, Istri teriak dari kamar, meminta agar bantu memakaikannya celana. Ku datangi, melihat perutnya memang masih bulat.

"Say, se pake akang ni calana, stenga mati mo maruku" pintahnya dengan nafas tersengal-sengal
"Hal-hal sepele itu saja, sulit ia lakukan. Ia memang butuh ditemani" tak bersuara, tapi batinku bicara.

Ku bantu pakaikan celana, tanpa bersuara. Memang tak biasa ku diamkan suara. Ia curiga. Seraya bingung menerjemahkan keadaan.

"Say. Kapa ngana ?" Hardiknya "Oh. Ngana kecewa kita blum melahirkan?"

Ku angkat dagu, menghadap keatas, melihat wajahnya yang keliru sangka. Ku jelaskan maksud diamnya suara.

"Nda sayang. Kita hanya pikiran"

"Pikir-pikir apa le kwa ngana. Kita yang mo rasa tu saki" judesnya (Ku paham. Ini masa sensinya)

Benar. Harusnya, istri lah yang banyak pikiran. Ia yang akan menghadapi kesakitan. Tapi, ada alasan kenapa ku diam saat itu.

Hati semacam tawar rasanya. Bercampur malu, dan paling menonjol adalah rindu. Ku pikir, hari ini sudah gendong bayi. Betapa amat rindu rasanya. Tapi, nyatanya, belum.

 "Ibu nanti balik lagi tanggal 18 Maret" ingatku kata dokter, kemarin malam di RS.WM Teling.

Pernyataan dokter kemarin malam, mengagetkan. Berbanding jauh dengan pikiran bidan di puskesmas, saat periksa sehari sebelum datang di Rs WM Teling,  Bidan puskes berharap, istri sudah waktunya dioperasi. Sedangkan, dokter di Rs rujukan, menyarankan, belum waktunya operasi.

Padahal, semua sudah siap. Koper-koper berisikan kebutuhan bayi sampai keperluan pakaian istri telah dibawa ke rumah sakit. Bahkan, teman-teman turut peduli, ada yang  "blokingtime"  akan menjenguk di hari itu. Ada juga yang sudah memberi selamat, pikir mereka putriku, sudah dipangkuan.

Belum lagi, masalah ijin tugas. Malu rasanya kepada rekan kerja. Terlebih pimpinan di sekolah. Beberapa minggu ini, sebentar-bentar harus minta ijin. Alasanya sama. Mendampingi istri yang lagi persiapan persalinan. Sampai-sampai, keseringan minta ijin, ada komentar di facebook, sesama rekan kerja membual "Doe, bilang mo capat-capat pulang karena mo melahirkan, kong kapa blum-blum dang" tulisnya ditambah emotion terkeke.

Hal di atas lah, sebagian alasan, sejak kemarin hingga hari ini, mulut lebih banyak diam. Batin pikiran sedang berdialok rumit. Mereka seolah mencari keputusan "Kembali, Kerja, atau tunggu saja sampai persalinan"

Semua di iluar dugaan "Waktu Tuhan Selalu Terbaik, Imani"

Lagi-lagi, ikuti kata hati. Jika hati baik, hasil selalu baik. Semua akan baik-baik saja. Imanku.


***