Wanita Yang Berkali-kali Buatku Berdusta Kepada Orang Tua

Iklan Semua Halaman

Wanita Yang Berkali-kali Buatku Berdusta Kepada Orang Tua

Rabu, 26 Februari 2020

Jelita (9thn, Anak pertama) dan Istriku, Fenty Luntungan

"Sesungguhnya, ia wanita yang buatku berkali-kali berdusta kepada orang tua"

***
Setelah menikah, setiap kali ku jengkel dengan sikapnya, berapa kali ku ceritakan kepada orang tua, dan apa jawab orang tua "Ma mo bilang apa ? Ngana yang pilih pa dia"

Kalimat ortu ada benarnya. Mereka tak sembarang menanggapi masalah keluarga anaknya. Ortu selalu menjadi pendengar yang baik. Dan mereka membuka logika berpikir agar masalah tak melulu diselesaikan dengan kemarahan. Mereka menyarankan agar berdoa kepada Tuhan, jika masalah terasa tak kuat dipikirkan. Tenangkan hati dan pikiran, setiap kali mengambil keputusan.

Saat tenang hati menguasai diri, masalah terasa ringan terpikir. Malah, setiap kali hati tenang,  terpikir masa-masa pacaran, ia dan aku, telah lewat berjuta rasa cinta. Kuat walau tanpa ikatan. Demikian ku kenang.

Pernah waktu itu. Segala cara dilakukan, bahkan, harus berdusta pun terasa bukan dosa. Cinta kami membutakan iman. Ia pernah menjadi wanita yang buat ku tergila2. Hingga, bukan hari kuliah pun, hilang rasa untuk pulang rumah. Kuliah hanya alasan agar bisa bertemu dengannya.

Orang tua selalu bertanya "Hey anak, kapa nda pulang rumah. So kurang tinggal2 di tampa kos trus" Berapa kali ortu sering menanyakan alasan kenapa tidak pulang.

lagi-lagi berbohong. Karena tugas kampus. Kegiatan kampus padat lah. Dan, begitu banyak alasan. Padahal, tidak seperti yang dikatakan. Sesungguhnya, anak mereka sedang tergila-gila kepada seorang wanita. Wanita yang akan menjadi ibu dari cucu-cucu mereka.

Kebohongan itu akhirnya terungkap. Ketika dengan berani ku katakan secara jantan "Ma, Pa, Kita mo kaweng" ku kenalkan langsung wanita berambut lurus dan halus, ku ingat malam itu.

Orang tua ku sempat membeku. Malam itu, penuh keheningan. Melihat wanita pilihanku, orang tuaku tak sedikit pun protes. Apa lagi menolak. Malah, mereka langsung mencari solusi. Mereka merestui pilihanku. Mereka senada dengan perasaanku. Tak heran, mereka selalu punya senjata pamungkas jika rumah tangga kami dalam "kegoncangan". Pesan mereka hanya itu-itu melulu "Ingat, dia adalah pilihanmu"

Wanita pilihanku saat ini, sudah 30 tahun. Sejujurnya, hati ini masih tergila-gila dengan pesonanya. Walau kadang ia sendiri kurang percaya diri. "So gode kita. So lebe tua" ia sendiri yang sering merendahkan diri. Nilaiku memang demikian. Tapi hati dan cintaku masih segar seperti kuliah dulu. Bahkan lebih dalam sampai sekarang. Kami akan dikarunia  seorang anak lagi. Ini bukti buah cinta kami. Semakin kuat dan bertujuan.

Tuhan sungguh mulia. Berikan cerita kesempurnaan berumah tangga. Awalnya saling suka, Menikah, dan sekarang akan beranak dua.

"Sayang. Jika Tuhan berkenan. Kan ku jaga cinta kita hingga kerut dan tua umur kita. Teruslah bekerja sama menjaga kesucian rumah tangga kita"
 .
Selamat Ulang Tahun sayang. 30 tahun usiamu. Hadiahmu telah Tuhan taru dalam isi rahimu. Anak kita. Dialah hadiah indah bagi kita berdua.

(Talaud, 27 Februari 2020)