Hasil USG ke Tiga: Anak Perempuan, Posisi Masih sungsang

Iklan Semua Halaman

Hasil USG ke Tiga: Anak Perempuan, Posisi Masih sungsang

Sabtu, 22 Februari 2020

Hasil USG : Bayi Perempuan

BAYI MASIH SUNGSANG, ISTRI; SAY, MASIH ADA DOI ?

Teknologi jelas menjawab;  Anak perempuan; umur kandungan delapan bulan 10 hari; posisinya sungsang.

***

Dokter sedikit berwajah senyum saat melihat kelamin anakku, nampak jelas terpampang dalam layar  ultrasoundnya "Selamat, masih perempuan"

USG yang ke tiga kalinya. Semua sama. Tidak merubah jenis kelamin (ngarep) dan kondisi bayi pun masih tidak berada pada posisi normal.

"Masih sungsang yah" Kata dokter sambil menatap layar USG di kamar prakteknya yang berukuran 4x7.

Ruang yang dilengkapi poster siklus usia kehamilan, dua layar led. Satu untuk melihat isi kandungan, dan satunya tv. Menjeling ke kiri,  ada satu bungkus kondom merek sutra, sedikit berhamburan di atas meja "Untuk apa itu ?" pikirku penasaran, tapi tak ku berani bertanya.

 Di ruang ini, dokter mengulang perkataan "Ibu harus balik setiap satu minggu" sambil memperbaiki kacamata di wajahnya, dokter kembali menatap layar USG "Ibu harus sering menungging di rumah yah" lanjutnya.

Wajah istri terlihat biasa saja. Ia tidak kaget dengan  temuan dokter soal posisi bayi itu. Ia sudah lebih dulu tau. Setiap hari ia merasakan kepala anak perempuan kami sering menyundul lambungnya. Namun yang ku dapati, wajah dokter lah yang semakin lama, makin layu.

Mulut dokter sering menguap, penglihatannya mulai cipit, suaranya tiba-tiba keras, dan tiba-tiba menurun drastis, sangat pelan "Dokter tampak ngantuk" nilaiku saat itu.

Pantaskan saja kondisinya, kami peserta terakhir. Antri dari jam 8 malam dapat giliran masuk jam 1 lewat tengah malam. 5 jam menunggu. Harus antri 13 orang. Kami yang ke 14. Sama waktu USG yang lalu (dokter muda). Waktu itu kami persis antri paling akhir, urut ke 36. Tapi tidak sampai selama ini. USG ketiga ini, lumayan lama. Apa karena dokternya sudah tua ?

Memang, sempat ku cermati gerak dokter muda dan dokter tua, beda layanannya. Masing-masing ada kelebihan dan kekurangan.

Sewaktu diperiksa oleh dokter muda, ia terlihat lebih lincah menggunakan alat USG. Jari jemarinya yang halus, seolah tak sedikit penuh ragu memencet dan memainkan mesin ultrasoundnya. Fitur-fitur nampak di kuasai. Diruangannya yang agak lebih luas dan ac bersuhu dingin itu,  pemeriksaan tak lama.Tak sampai 15 menit selesai. Selain cepat, ini yang paling beda. Mahal. Kami bayar hampir 450rb. Lumayan. Sewaktu dokter berkata harus balik  lagi karena kondisi bayi sungsang, bibirku berkata iya, tapi hatiku masih menimbang "Semoga ada tempat yang lebih murah" harapku.

Mendengar harapanku, ada teman merekom agar coba USG di tempat yang baru. Kami ikuti. Dan kami dilayani dokter tua. Layanan sangat beda. Bedanya hanya kelincahan mengoperasikan alat. Tapi menjawab keluhan pertama. Lebih murah bayarnya. Namun, itu tadi, ada perbedaan yang cukup siknifikan soal pelayanan. Dokter tua lebih banyak memberi nasehat keibuan. komunikasi lembut dan banyak memberi saran. Seperti sarannya agar istri sering lah menungging selama 10 menit. Tak hanya saran, ia juga langsung mengajarkan cara menungging yang benar. Di situ istri langsung praktek.

Kesimpulannya, sewaktu periksa dokter muda, layanan cepat, lincah dan lihai menggunakan mesin USG, kurang pasif memberi saran, kurang keibuan, dan mahal. 450rb sekali periksa.

Sedangkan sewaktu periska sama dokter tua, layanan lama, kurang lincah mengoperasikan mesin USG, komunikatif, keibuan, murah bayarannya. 250rb sekali periksa.

Dua-duanya memberi vitamin. Yang muda langsung diberikan ditempat, yang tua, beri resep dan  diarahkan ke apotek.

Namun, keduanya menghasilkan kesimpulan yang sama. Hasil periksa jenis kelamin anak kami, perempuan. Dan masih sungsang. Saat ku tanya  "apa harus operasi?", dokter tua menjawab santai "Tergantung bobot berat bayi. Kalo ukurannya kecil, bisa dipaksa lahir normal walau pantat duluan" lanjutnya "Tapi ibunya harus kuat"

Dadaku terpukul. Hatiku membatin; betapa kaum mereka punya derita yang memang penuh resiko. Menjadi perempuan tidaklah gampang (Cintailah ibu kalian)

Setelah kami pamitan dengan dokter tua, ku lihat jam tangan "Sudah jam setengah dua pagi"

Harapan kami, semua perjuangan ini adalah wujud tanggung jawab sebagai orang tua. Melakukan semua yang dapat kami sanggupi. Berjuang mencari solusi disetiap permasalahan yang kami hadapi.

Setiba di rumah, kami langsung ke kamar. Saat duduk di atas kasur,  Istri menghampiri dan memeluk. Ia senyum-senyum melihat foto USG anaknya yang nampak jelas wajahnya, seperti mengisap jari. Kamar begitu hening. Dan suasana semakin hening ketika ia menanyakan sesuatu yang amat fital.

"Sayang, masi ada doi nagana kasiang?"

Ku pegang tangannya. Dengan wajah penuh keyakinan. Ku tak mau ia ragu. Apa lagi kuatir soal kebutuh kelak nanti. Ku jawab santai

"Say. Doakan. Semoga papa disanggupkan. Dan yakin saja, Tuhan pasti buka jalan"

***