Bayi dan istriku masuk Ruang Seleksi

Iklan Semua Halaman

Bayi dan istriku masuk Ruang Seleksi

Jumat, 14 Februari 2020

Seleksi CPNS Manado

Hari spesial. Hari kasih sayang, demikian orang menyebutnya. 14 Februari ini, hadiah kasih sayangku kepada istri agak berbeda dari biasanya. Bukan bunga, atau uang yang dibungkus kado, lebih dari itu. 

Kemarin malam coklat sudah saya beli. Kemudian, ku sediakan map pink untuk berkas ujian CPNSnya. 

Ku dekati dia semalam, membelai dan mendorong agar ia kuat dan merasa sanggup. Ku lihat ia gelisah. Ku berupaya menenangkan.

Ku ajak agar ia tidur cepat, tapi katanya sulit "Say, nda mo ta tidor"
Ku belai kembali rambutnya yang halus dan mudah rontok, ku elus-elus perutnya, berharap ia merasa damai, tenang dan langsung tidur. Nyatanya tidak. Malah mataku yang tak kuat. Bukan dia yang tertidur, malah aku yang langsung tak sadarkan diri. 

Setelah pagi tiba, Mata malasku terbuka. Yang lebih dulu ku lihat mata istriku. Kaget. Ia sepertinya memang tak tidur. Tatapan matanya tajam saat ku tatap. Ia malah geleng kepala. 

Ku dekati dia dan ku seolah tenangkan pikirannya  "Sayang, jangan gelisah, kuat neh"

 Mendengar suaraku yang lembut itu, lantas ia balik bernada keras sembari tertawa "Ngana tu tenang. Bukang kita!" Sambil tersenyum. Dibarengi nada tegas.

"Kapa kita yang harus tenang ? Ngana nda ta sono satu malam sayang. Ingat itu" Protesku agar ia mencernah kembali ucapannya tadi.

Namun, jawabannya  buatku tercengang. Ia malah membalikan arus, kalau aku yang sebenarnya gelisah. Bukan dia.

"Suamiku. Kau yang sebenarnya gelisah, bukang kita. Kita nda tidor karena ja inga2 pelajaran" jelasnya "Kong ngana tau. Ngana tadi malam, kurang kita da kore-kore" lanjutnya.

"Kapa kita tadi malam sayang" Tanyaku penasaran

"Ketindisan keode ngana. Tidor ba taria-taria" Ungkapnya, membuat hati dan jiwaku sangat malu.

Memang, aku yang sebenarnya gelisah. Mengapa tidak, ku lihat ia begitu tekun belajar. Tidur larut, mata sudah bak lingkar mata panda, ditambah memikirkan kondisi bayi dalam perutnya. Mungkin, itu yang sebenarnya membuat batinku terjepit rasa takut. Jelas. Bukan istriku yang gelisah. Sesunggunhya, suaminya.

Gelisah itu berbuah kasih yang amat dalam. Kasih itu ku tuangkan saja. Apa lagi dapat dukungan waktu, hari ini hari kasih sayang yang diperingari umat manusia. Ada alasan kuat, kuanggap ini "ples-plesan" hari kasih sayang untuknya.

Pagi-pagi sekali, ku ambil semua kendali dapur. Ku buatkan ia teh hangat dan sarapan pagi. Pokonya, ia hanya fokus pada kesiapan ujian cpns saja. Meski kadang ada perkataanya yang sedikit menyinggung, ku tak menanggapi. 

Kali ini, ia benar-benar ratu. Hak preogatifnya, marah ato tidak. Bagiku, ia harus merasa paling percaya diri hari ini. Dan merasa paling  berkuasa ditempat ini. 

"Adoh... Laju jo. Antar kita somo terlambat" Teriaknya keras

"Iya sayang. Papa bergegas. Pake payung ujang di luar" jawabku lembut meski ia kasar

"Doh... capat jo" ucapnya dengan mata mencipit

Ku bergegas seperti gelisah sopir pribadi yang baru dibentak tuan, tak lagi ku panaskan mobil. Langsung kami berangkat.

Dalam perjalanan menuju lokasi CPNS, Kanreg XI Manado, kaca mobil disambar-sambar rintik hujan. Suasana menjadi romantis.

Sambil menyetir, tangan kiriku auto bergerak. langsung mendarat, menyentuh perut dan tangan kanannya. Memberi pesan.

"Sayang, semangat yah. Berdoa saja. Tuhan akan beri kita hasil terbaik. Papa so sangat jempol mama pe upaya selama ini, dalam mempersiapkan diri" Wejanganku, agar ia tenang dan ikhlas.

Hatiku pun ikut tenang. Nafasnya terlihat berhembus legah. Usai mendengar cermahku ia tampak senyum dan kuat. 

Kepalanya langsung menghadap. Kami tatap menatap. Hampir saja. Kalo tidak dikejar waktu, dan tidak sedang bawa mobil, mungkin, kami sudah berciuman romantis. Lebih seperti Jak and Ros. (Sayang di oto)

Ku lihat ia sudah sangat siap. Persiapan mantap. Dan apa pun hasilnya, kami berdua menyambut dengan tangan terbuka. "Kami siap menerima hasilnya nanti"

Setelah tiba di lokasi. Ku kembali berdoa dalam hati. Baru dua langkah ia pergi, ku panggil ia kembali. 

"Sayang sini nda lama" ajakku "Mo pegang tu puru dulu"

Ia tersenyum. Ku sentuh perutnya. Dan kami berdua mendapat kejutan spesial. "Puk-puk".

Oh Tuhan, Bayi kami menendang.

Kami tertawa haru. 

Sudah. Ku ijinkan ia segera masuk.

Melihat ia melangkah penuh percaya diri. Peserta lainnya ikut menatap langkahnya. Panitia pun bergegas menghampiri. Ia terlihat spesial. Karena wanita hamil harus dilayani khusus. 

Hati ku ikut syaduh. Dan batinku berkata "Lihat... Bayi dan Istriku sudah masuk Ruang Seleksi"

SELAMAT SAYANG. SELAMAT HARI PENUH KASIH SAYANG.

Manado, 14 Februari 2020 
Ayah.