Antara Loyalitas, tanggung jawab, dan keluarga

Iklan Semua Halaman

Antara Loyalitas, tanggung jawab, dan keluarga

Kamis, 06 Februari 2020

Work and Family/Image : google

"Pak, tidak baik juga kalo terlalu loyal di kantor. Biasanya, kita akan dipercayakan banyak hal oleh mereka. Di tambah, kita tipe orang yang betanggung jawab, kadang keluarga di nomor dua kan"

***

Malam itu, ku bertemu dengan seseorang. Kaget. Ikut terpukul mendengar ceritanya. Ia lantas tanpa sadar, menerima tamu sudah larut malam, tambah larut saat ia berbagi soal kisah hidupnya.

Kisahnya dalam. Inginku Ikut menangis tapi tak terurai air mata. Seolah kuat didepannya.

Ia berkisah. Sekitar 4 bulan lalu, suami meninggal. Tak heran ia sering pakai baju warna hitam. Hatinya masih berduka. Ia seolah belum percaya kalo suami sudah tiada. Selama pernikahan, 10 tahun lamanya, mereka sering berjarak.

Keduanya punya pekerjaan. Punya tanggung jawab. Sangking terlalu bertanggung jawab, mereka kehilangan momen bersama seperti keluarga lainnya.

Banyak waktu melepas rindu hanya melalui video call. Kemudia, mereka balik kerja lagi. Kalo pun ketemu fisik, waktu itu tidak lama. Hanya ketika keduanya ada waktu libur. Kadang pun waktu libur terpakai untuk pekerjaan tertentu. Karena kantor terlalu mengandalkan mereka.

Di sini, ia lantas menyisip pesan "Pak, tidak baik juga kalo terlalu loyal di kantor. Biasanya, kita akan dipercayakan banyak hal oleh mereka. Di tambah, kita tipe orang yang betanggung jawab, kadang keluarga di nomor dua kan"

Seperti yang ia alami. Ia berkisah, waktu banyak terampas oleh pekerjaan. Ia dan suaminya tak berkesempatan punya anak. Selama menikah hingga ia tiada, mereka tak berhasil memperoleh keturunan.

Solusinya, mereka sepakat angkat anak. Sudah angkat anak, hubungan kembali sama, mereka kembali berjarak. Masing2 kembali bekerja.

Tiba waktunya. Semua terasa lewat begitu saja. Suaminya meninggal. Meninggal pun di tanah rantau. Kena sakit. Info itu ia dapat ketika ia pun sedang diberi tanggung jawab oleh kantor.

Seluruh temannya di kantor sudah tahu. Suaminya meninggal. Heboh di facbook. Ia tidak buka facebook. Sibuk kerja. Menunggu ia istirahat. Datang temannya memberanikan diri. Mendekat dan berkatan "Kak, suamimu sudah meninggal"

Ia terbuka. Berkata hati seolah hancur. Kaki serupa tak bisa melangkah lagi. Sangat terpukul. Kaget bercampur sedih. Usai suaminya dimakam, ia sakit. Sampai diinfus. Setelah pulih dari sakit. Ia kembali pulang. Di rumahnya bersama orang tua.

Ia tinggal bersama orang tua. Sama-sama telah menjanda. Tidak ada suami, tidak ada papa tercinta. Lebih sedih, ibunya pun sedang sakit-sakitan.

Ia dan ibunya sendiri. Saling merawat diri. Kehilangan sosok pelindung hati dan kepala keluarga di rumah itu.

Sangat sepi rasanya. Ia anak sendiri. Anak satu2nya di rumah itu. Kini, ia sendiri yang merawat ibunya saat ini.

Lebih sedih, sejak suaminya meninggal, anak angkatnya sudah diambil paksa oleh orang tua sungguhnya. Sama seperti makam suaminya pun di paksa orang tua menantunya untuk diletakan dikampung mereka.

Malam itu, saya terhanyut haru. Pikiran langsung terbawa jauh. Prihatin dengan kondisinya, dan langsung rindu istri dan anak di rumah.

Di akhir cerita kami malam itu, ia memberi pesan.

"Pak Kristian. Keluarga adalah harta yang berharga. Sebisanya perbanyak waktu dengan mereka. Imbangi antara kerja dan waktu untuk keluarga" sembari terurai air mata, ia melanjutkan "Saya sangat merasakan, dan sekarang menyesal, selama menikah, tak banyak waktu kami bersama. Semua sibuk kerja"

"Dan satu lagi" lanjutnya "Kalo boleh, banyk anak. Lihat saya sekarang. Sulit kalo hanya anak sendiri. Sekarang cuman saya sendiri yang merawat orang tua saat ini"

Leherku tertekuk. Mulutku hampir kehilangan suara. Badanku persis membeku. Tersentuh mendengar cerita hidupnya. Tapi, melalui ceritanya pun ku paksa mengeluarkan suara. Dan akhirnya tersampaikan. Dan ia pun sudah lebih memahami. Tak sulit lagi memberi alasan kenapa ku harus berusaha datang malam-malam di rumahya.

"Kak. Ini lah alasannya. Saya datang malam ini. Saya sangat rindu keluarga"

"Ia kakak paham. Kakak bantu apa yang bisa kak bantu" jawabnya.

"Terima kasih kak. Ini berkasnya" ucapku.