Harga diri Guru diukur dari kesabarannya

Iklan Semua Halaman

Harga diri Guru diukur dari kesabarannya

Sabtu, 23 November 2019
Guru SMP Negeri 2 LirLir 


PERLUKAH GURU MENGALAH?

Waktu kanak-kanak dulu, ku anggap mengalah adalah sikap lemah. Dan menurunkan derajat diri.

Setelah menjadi guru, melihat anak-anak tertentu yang berani bentak guru di depan temannya, betapa luka dan malu hati guru.

Namun, guru dituntut harus mengalah dan sabar menanggapinya.

Persaan luka dan malu ternyata adalah sumbu sikap emosional yang perlu dipasifkan agar menekan dampak negatif. Kalo diaktifkan, guru yang bermasalah secara emosional pun merasa tak segan "merabrak" siswa itu di depan temannya agar yang lain melihat dan tidak mengikuti sikap tak terpuji  siswa itu.

Namun, lagi-lagi, guru harus belajar mengalah untuk menang.

Memenangkan pertarungan pikiran, persaan dan ego.

Siswa yang berani bentak guru mengalami masalah emosi. Guru juga harus panjang sabar, jangan dikendalikan emosi.

Guru menarik diri. Hentikan percakapan dengan siswa. Catat tindakan. Pikirkan secara sadar. Ciptakan momen yang tepat. Panggil anak disaat sudah tenang. Diskusi empat mata. Catat gejala-gejala agresif. Dengar alasan rasional dari anak. Dan dapatkan jawaban hatinya.

Siswa yang membentak guru ternyata berani membentak guru karena tidak ingin malu di depan teman2nya. Masalah berakar dari "menjaga harga diri".

Walau, ada juga. Beberapa siswa, memang sudah meremehkan pribadi guru. Bentak karena persepsi siswa terhadap guru "Guru lemah secara fisik" Sikap kontraversional mereka menguji kesabaran guru.

Bagaimana jika siswa memang sudah meremehkan guru?

Lagi-lagi ini adalah pertanyaan soal "menjaga harga diri".

Sebagai guru, tentu harus mengajarkan kepada siswa bagimana menjaga harga diri yang baik dan wajar sebagai masyarakat sehat mental.

Menjaga harga diri tak harus bermain fisik, atau menyerang harga diri orang dengan kata-kata tak mendidik.

Diksi Keras. Apa lagi menghina intelektual "dasar bodoh, biongo". Siswa pasti terluka. Karena mereka belum matang menanggapi perkataan itu, mereka akan menganggap cara yang tepat menjaga harga diri adalah dengan bertingkah sama""Keras dan melukai perasaan orang adalah cara yang wajar menjaga harga diri" pikir mereka.

Guru memang butuh sikap "sabar yang tak ada unjungnya". Dan harus cerdik menanganinya.

Setelah siswa mengungkapkan kata "maaf" dari segala salah dan dosa mereka, guru akan menarik nafas dalam. Bahkan terketuk hati dan pikiran. Dan berkata "memang mereka masih anak-anak" anak-anak sering terbawa emosi tanpa pertimbangan matang.

Jangan sampai guru menjadi serupa dengan emosi anak-anak.

Jika kita sejajarkan emosi seperti anak-anak, sudah tentu kita sebagai guru, akan dianggap menjadi lawan setara anak-anak kita.

Mengalah adalah sikap dewasa. Guru memang harus dewasa.

Berdoa semoga Tuhan menguatkan  hati kita. Hati para guru.

(Heski Hendom)

***