Langkah Pencegahan dan Cara Mengatasi Siswa Bermasalah di Sekolah

Iklan Semua Halaman

Langkah Pencegahan dan Cara Mengatasi Siswa Bermasalah di Sekolah

Sabtu, 26 Oktober 2019
Siswa SMP Negeri 2 Lirung

Murid Bermasalah, Kenali Sejak Dini Dan Ketahui Cara Menanganinya

Awalnya Budi menegur muridnya agar mengerjakan tugas melukis. Namun, teguran Budi tidak dianggap. Spontan Budi mendekatkan diri dan mencolek  pipi muridnya dengan cat. Inilah awalnya,  kemudian Budi dipukul hingga mengalami mati batang otak. 

Gara-gara pukulan itu, Seluruh organ tubuh Budi tidak berfungsi. Di rumah sakit DR Soetomo, Surabaya, nyawa Budi, guru Seni Rupa yang bernama lengkap Ahmad Budi Cahyono (26) tak tertolong. Budi mati di tangan muridnya sendiri. Kejadian ini terjadi di SMAN 1 Torjun, dan  viral pada bulan februari 2018.

Viral kasus serupa di Manado. Penganiayaan murid terhadap guru tampak lebih extreme dibanding kasus Budi di Surabaya. Guru Agama di SMK Ichthus, Manado,  bernama Alexander Pengkey (54), betapa kejam diperlakukan muridnya sendiri.  Pak Alex mendapat sembilan tusukan. 
Penusukan itu berawal dari teguran Pak Alex kepada muridnya karena merokok di halaman sekolah. Merasa kesal, oknum muridnya pulang rumah dan balik membawa senjata tajam (sajam). Kemudian, sajam itu dipakai sebagai alat pelampiasan kekesalan. Nyawa pak Alex tak tertolong. Pak Alex mati di tangan muridnya sendiri. 

Dipastikan kedua guru di atas adalah korban dari perilaku murid bermasalah di sekolah. Sangat tidak mungkin jika murid yang tidak bermasalah akan berani bertindak keji seperti itu kepada gurunya. Hanya murid-murid yang bermasalah yang berani bertindak demikian. Apalagi melakukan penyerangan secara terang-terangan dengan benda tajam, tentu adalah hal yang tidak kita inginkan.

Adakah sekolah terbebas dari siswa bermasalah ?

Sebenarnya, murid bermasalah seperti mereka cenderung ditemui hampir di seluruh sekolah. Jika diabaikan, atau keliru menanganinya, konflik pasti terjadi. Baik itu konflik antara murid dan murid, atau pun guru dan murid. Berat ringannya konflik, tergantung kadar mental perilaku muridnya dan cara penanganan sistem sekolahnya. 

Hampir semua sekolah pasti mendapat jatah hadirnya murid-murid bermasalah di sekolahnya. Nah, Sejatinya, untuk itulah sekolah hadir menyiapkan program pendidikan yang baik. Baik untuk pengetahuan, keterampilan dan terutama pembentukan sikap mereka.

Mengerucut pada masalah sikap murid. Persis indikator penting yang terkandung dalam kurikulum 2013 (K13). Nilai sikap adalah indikator utama. Sikap muridlah yang tak kalah penting dibentuk. Diyakini, sikap baik menjadi fondasi penting melengkapi penyerapan pengetahuan dan keterampilan.
Dalam K13, penilaian sikap tebagi dua bagian, yakni sikap spiritual dan sosial. Pembentukan sikap spiritual agar murid sadar akan adanya Tuhan, dan tahu bersyukur. Selanjutnya pembentukan sikap sosial, agar murid jujur, disiplin, miliki tanggung jawab, santun, peduli dan  percaya diri. Itulah acuannya. Jika ada murid yang lemah dalam butir-butir sikap di atas, sudah pasti murid itu sedang bermasalah. 

Kenapa ada siswa bermasalah di Sekolah ?

Masalah itu ada akarnya. Seperti pendapat pakar psikolog, Abraham Maslow namanya. Ia sosok teoretikus yang banyak memberi inspirasi dalam teori kepribadian. Maslow membaginya dalam piramida kebutuhan Manusia, ada lima bagian. Menurutnya, Jika salah satu bagian itu tidak terpenuhi, di sana akan ada masalah. Masih ingat Iklan Snickers ?

Bukan tanpa alasan Iklan Snickers mempertontonkan Toro Margens sebagai sosok yang gelisah dan pencari masalah di dalam mobil teman nya. Setelah diberi Snicker, Toro Margens tiba-tiba berubah menjadi Adipati Dolken. Yang tadinya berwajah tua berubah menjadi muda. Iklan cokelat bercampur kacang serial itu pun tegas berpesan “Karena lapar Ngerubah Orang”. Mungkin inilah contoh iklan yang bisa menyederhanakan maksud Maslow, perihal kebutuhan dasar. Kebutuhan dasar ini disebut Maslow adalah kebutuhan Fisiologis (Fa’ali/Phsyologic Needs.) Menurutnya,  demi kebutuhan Fisiologis seperti makan dan minum, manusia dapat mengubah perilakunya. Kebutuhan ini sangatlah kuat sehingga bisa mendorong diri manusia berusaha dengan cara apapun hanya untuk memenuhi kebutuhannya.

Begitu juga kaitannya dengan murid yang bermasalah di sekolah. Ada hal-hal yang perlu diketahui terkait kebutuhan murid yang belum terpenuhi. Atau malah ada yang tidak pernah dipenuhi. 
Maslow membaginya menjadi lima bagian, bahwa manusia tidak lepas dari kebutuhan fisiologis (Fa’ali/Phsyologic Needs), Kebutuhan akan rasa aman dan keselamatan (Safety & Security Needs), Kebutuhan akan rasa cinta dan memiliki ( Love and Belonging Needs), Kebutuhan akan penghargaan (Esteen Need), dan  Kebutuhan akan aktualisasi diri ( Self Actualization Need). 
Mari kita renungkan, berapa banyak murid-murid di sekolah,  kehilangan rasa cinta oleh orang tuanya, dan sering dibunuh karakternya.  

Ada juga karena kondisi lingkungan yang kurang sehat, maraknya tayangan pornografi dan pornoaksi, penyalahgunaan alat kontrasepsi dan obat-obat terlarang, ketidakharmonisan kehidupan keluarga, dan dekadensi moral orang dewasa sangat mempengaruhi pola perilaku atau gaya hidup mereka. Perilaku bermasalah seperti pelanggaran tata tertib sekolah, tawuran antar peserta didik, tindak kekerasan (bullying), meminum minuman keras, menjadi pecandu narkoba atau NAPZA (narkotika, psikotropika, dan zat adiktif lainnya), pergaulan bebas (free sex), dan kekerasan seksual merupakan perilaku yang tidak sesuai dengan norma kehidupan berbangsa yang beradab. 
Sudah tentu, jika murid telah mengalami masa kritis di atas, atau sudah dikotori oleh pergaulan keras dan bebas, mereka akan mengalami dua kondisi kritis. Menjadi pasif atau malah jadi agresif. Murid yang bermasalah jika respons nya pasif, mereka adalah murid yang sering bunuh diri jika kesulitan keluar dari masalahnya sendiri, lain lagi dengan murid dengan respons  agresif, merekalah yang sering menyerang guru jika merasa terusik.

Mereka-mereka perlu dikenali. Jangan sampai terlambat mendeteksi keberadaan mereka di sekolah. Jika mereka diabaikan, sekolah akan mengalami dua kumungkinan. Apakah akan ada aksi guru pukul murid atau sebaliknya murid pukul guru. Kedua masalah ini bisa berpotensi terjadi karena kurangnya pemahaman guru terhadap kondisi psikis muridnya. 

Bagaimana mendeteksi Siswa bermasalah di Sekolah ?

Sangat baik jika sekolah diharidkan guru bimbingan dan konselingnya (BK). Guru BKlah yang perlu mengawali pengenalan lebih dalam kepada murid-murid di sekolah. 
Yang akan dilakukan guru BK adalah mengambil data lengkap muridnya dengan cara membagikan Assesman kebutuhan, yang isinya semua tentang pertanyaan mendeteksi kondisi kejiwaan murid itu sendiri. 

Dari hasil Asesseman itu, Guru BK mendapat data dasar, peta masalah murid-muridnya. Dan dari data tersebut diolah menjadi satu kesatuan profil murid yang mencerminkan segala aspek kebutuhan mereka. 

Aspek pendeteksian kebetuhan mereka, merekam soal kebutuhan dan permasalah sikap baik pribadi, sosial, belajar dan karir. Nah, data inilah yang akan menjadi dasar referensi bagi seluruh program sekolah dalam menyingkapi permasalahan yang berpotensi terjadi dikemudian hari. Ada langkah pencegahan (prefentif). Sebelum terjadi masalah, sekolah sudah lebih dulu mengantisipasinya. Dari data ini, Sekolah punya data dasar “menglebel” mana murid aman, mana murid rawan.
Sebagaimana antisipasi Guru terhadap muridnya. Semua guru wajib berkolaborasi dengan guru BK, agar tahu cara pengambilan tindakan terhadap murid-murid tertentu. Dari data ini pun, sekolah bisa berkolaborasi dengan orang tua dan pemerintah. Berdiskusi secara terbuka, mencari solusi bersama, bagaimana penanganannya. 


Penanganan Siswa bermasalah

Penanganan murid bermasalah tidak lepas dari peran serta seluruh ekosistem sekolah. Harus ada koordinasi intens antara, guru BK dengan Kepala sekolah, guru mata pelajaran, wali kelas, orang tua dan ahli-ahli lainya sperti, psikolog, dan pihak kepolisian.  

Ringan atau beratnya masalah murid, sangat baik jika ada sistem penanganannya. Seperti kasus penangan murid yang tidak patuh terhadap guru tertentu. 

Disinilah guru sering terjebak emosi hingga bertindak kurang pas pada murid. Dan sialnya lagi, harus berhadapan dengan murid  berlebel rawan. 

Sebenarnya, jika memang ada murid yang kurang baik sikapnya, tidak perlu ada kata kasar atau tindakan fisik kepada murid. Apa lagi yang berlebel rawan. Agar aman, jika guru kurang nyaman melihat sikap muridnya, tegur dengan nada mendidik, dan catat dalam deskripsi sikap, selanjutnya, berikan kepada wali kelas, jika memang sudah parah, wali kelas menyurat kepada orang tua, dan bisa dialihkan kepada guru BK. Toh, jika sikapnya berulang-ulang dan tidak membaik, ada tindakan selanjutnya. Atas kesepakatan bersama, isitilahnya “dirumahkan” saja muridnya dalam kurun waktu tertentu. Sampai ia benar sadar.  

Ini contoh sistem penanganan sederhana. Dengan begitu, Murid yang agresif tidak akan mudahnya menyerang orang-orang sepihak. Ia akan merasa kecewa buka kepada guru tertentu. Murid akan terpahami, bahwa ia di sangsi oleh sistem yang telah disepakati bersama. 

Biasanya, penyerangan murid terhadap guru timbul karena murid merasa tidak pernah disangsi sekolah. Dan tiba-tiba ada guru “baru” berani memarahinya. Atau mencoba mendisiplinkan sekolah dengan caranya sendiri. Apa yang terjadi ? Perlawanan, penyerangan. 

Maka, penting bagi sekolah agar membuat sistem penangan masalah di sekolah dan tak kalah penting, mendukung program bimbingan dan konseling di sekolah.
Masalahnya sekarang, ada kah guru bimbingan dan konseling dihadirkan di sekolah ? 

Oleh : Heidi Kristian Repi, S.Pd, Gr
(Guru Bimbingan dan Konseling)