Jatuh "Cinta" Sama Oma Umur 92 Tahun

Iklan Semua Halaman

Jatuh "Cinta" Sama Oma Umur 92 Tahun

Senin, 09 September 2019
Oma Gustiana Umur 92 Tahun


Kalo tidak salah dengar, Oma Gustiana Manurap namanya. Umur 92 tahun, 7 bulan. Ia Lahir di bulan januari. Pandangan pertama di Loket PLN Lirung, ku langsung "Jatuh Cinta".

"Jatuh cinta" kepada beliau bukan perwakilan nafsu atau hasrat duniawi, tapi lebih pada wujud kagum karena beliau sampai saat ini memperlihatkan kondisi prima menjalani aktifitasnya. (Saya malu, masih muda sakit-sakitan)

Diakui beliau, masih sering beraktifitas di kebun. Hebatnya lagi, indera2 beliau masih berfungsi tajam. Pendengar dan artikulasi ucapan masih garing. Barangkali, kita akan terkeco jika berbicara di hp. Tak heran, diskusi kami seru. Seraya "pacaran".

"Oma Gus, suaranya masih seksi. Persis seperti berdiskusi dengan nona-nona" Namun, keriput dan katarak dimatanya tak dapat mengeco suara dan telinganya, ia pun mengaku, sudah lanjut usia. "Oma so tua kasiang" jawab oma ketika ku puji suara beliau yang masih terdengar merdu.

Pujianku tentu punya maksud. Ku ingin lebih dekat. Mengakrabkan diri, agar bisa menggali lebih jauh pola hidup Oma (Bukan status oma yah). Walau, oma mengaku, kalau sekarang oma sudah sendiri "Almarhum Suami oma pensiunan di Pemerintah Minahasa, asal Boroko"
---
Pola hidup oma diceritakan secara sederhana, singkat, jelas dan langsung dibarengi studi kasus. Oma Gus memang sempurna. Sudah "cantik" suara merdu, cocok jadi dosen. Dosen hidup. Sekira 2 sks beliau buka-bukaan soal menjaga hidup sehat jasmani dan rohani.

Sehat jasmani dan rohani, dua kata kunci. Indikantor tatap muka pembelajaran hidup beliau menarik. Langusng ku tanya "Bagaimana Oma bisa bugar di umur seperti ini?

Oma menjawabnya dengan mata yang jauh dari prasangka. Ia terlihat jujur menyampaikannya." nyong..." oma memulai pembicaan dan langsung ku celah" So kaweng kita oma" "Maaf. Terlihat masih cowo" puji oma seraya melanjutkan jawaban. "oma bugar karena menjaga pola hidup sehat. Memilih makan yang sehat dan tahu mengistirahatkan diri"

"Sayur tanpa bahan kimia"
Memilih makana sehat, Oma Gus punya cara sendiri. Beliau suka makan sayur yang ditanam sendiri di kebun. Kalau pun beli di pasar, harus teliti. Pilih yang benar2 alami, sayur yang dijejaki ulat malah lebih baik dibanding yang terlihat segar. Sebisanya, hindari campuran kimia.

"Air minum harus dimasak"
Oma Gus paling anti minum air mentah. Seperti yang sudah tren sekarang ini. Air gelon, air isi ulang, sebisanya oma menghindari minuman seperti itu. Oma lebih memilih minum air yang sudah dimasak. Tak heran, oma kalau ke pesta sekalipun, pasti membawa air minum sendiri di dalam botol. Air yang sudah dimasak.

"Istirahat yang cukup"
Oma Gus menyayangkan kebiasaan orang sekarang ini, banyak yang tidak peduli dengan pola istirahat diri. Beliau sering geli melihat kebiasaan main hp, nonton tv, berdiskusi sampai lupa waktu hingga tidur larut di malam hari. Oma Gus anti tidur larut. Sebisanya, beliau tidur jam 7 malam. Bangun jam 5 pagi. Itu yang dilakukan beliau.

Diskusi semakin "panas". Sayangnya Oma harus pamit cepat. Ia harus bergegas pulang, menjaga perasaan anak perempuan bungsunya yang katanya sudah umur 51 tahun, lajang. Memilih tidak menikah karena ingin menjaga hari tuanya. Ia begitu sayang pada oma. Sampai2 sering kuatir jika oma tidak beri kabar, atau larut pulang.

Rasa empati oma itu, menutup jawaban yang masih sempat oma bagikan di sela-sela oma pamit. Sambil menuju ke bentor yang oma tumpangi, Oma menambahkan resep hidup bugar dan sehat. "Ada dua hal penting lagi, nyong.. Ops maaf.. Sudah kawin yah? Sapa namamu?" "Heski"ucapku sembari menunggu oma melanjutkan.

"Jadi, gini, Hes. Berupaya lah agar tidak mengecewakan orang. Jauhi pertengkaran. Sebisanya, jangan menimbulkan dendam. Apa lagi membuat orang menyumpahi kita, atau mengutuk kita" termenung ku mendengarnya. Dan tak sabar mendengar kelanjutannya.

"Bawa diri harus ramah. Buat diri kita disenangi orang. Jaga hubungan baik dengan siapa saja. Sebab, hubungan baik menenangkan jiwa" sebari menasehati dan tersenyum, oma memamerkan giginya yang terlihat longgar. Dan mulai mengangkat kaki kirinya di atas moncong bentor.

"Ada lagi Hes. Terakhir. Dan ini penting" simpul pesan oma yang bikin hatiku semakin berdebar. "Oma mau tanya" Makin penasaran. Serupa hati berdebar menanti jawaban cinta ketika oma melempar pertanyaan "Kamu agama apa?"

"Kristen, Oma" jawabku

"Jangan lupa. Sering2lah baca Alkitab"

Oma Gus pun pergi bersama pengemudi bentor biru putih. Dan meninggal jejak "cinta" dalam hati.

Ku terpesona melihat beliau yang langsung ku titip dalam doa, semoga orang-orang yang ku sayang diberi umur panjang seperti halnya Oma Gustina.

Sampai jumpa "Cinta".

-Heski Hendom
-Lirung, Talaud, 5 Agustus 2019