Guru Lajang yang kurang berhati-hati

Iklan Semua Halaman

Guru Lajang yang kurang berhati-hati

Senin, 09 September 2019


Saya seorang guru. Masih lajang waktu itu.

Malam itu saya sibuk menyusun soal ujian semester dua. Akhirnya selesailah tugas itu.

Eh... Kok tiba-tiba saya teringat pacar saya. Rindu. Segera saya tulis surat buat si pacar.

Mencurahkan isi hati dan rindu. Mata saya sudah redup-redup. Mengantuk. Beberapa kali sudah menguap. Saya tahan. Saya paksaan. Surat rindu pun selesailah.

Tergesa-gesa saya lipat. Surat cinta langsung masukan ke dalam amplop. Lem. Tulis alamat. Beres!

Semua tumpukan kertas saya masukan dalam tas. Saya pergi tidur.

Besoknya, pagi-pagi saya pergi ke sekolah. Di jalan, saya singgah kotak pos kirim surat.

Sampai sekolah, masuk kelas. Mau tulis soal di papan tulis, kertas soal tidak ada dalam tas.

Ingat-ingat..

Ternyata, kertas soal, sudah terlipat bersama surat cinta dalam amplop. Ulangan ditunda. Anak-anak diberi tugas lain.

Dua hari kemudian, sang pacarpun datang. Memberondong bertubi-tubi, menuding saya "Rindu?! Bohong! Apa saya harus menjawab soal-soal tata bahasa sebagai cinta sejati?"

"Sabar dulu, sayang! Dengarkanlah dulu! Ceritanya begini...!" seraya merayu.

Akhirnya, sang pacar tertawa terkekeh-kekeh. Dia memeluk saya, melepas rindu.

Kebingungan saya berganti kenikmatan. Itulah gara-gara kurang hati-hati