Netizen MPR RI : Manado, bukan sekedar Jago Makan dan Tampang Doang

Iklan Semua Halaman

Netizen MPR RI : Manado, bukan sekedar Jago Makan dan Tampang Doang

Senin, 10 Desember 2018


Blogger Manado Tuai Pujian

Fakta : Semua tempat, waktu dan kegiatan adalah benar
Gaya Bahasa : Hiperbola
Catatan : Cerita ini mengandung pemaknaan 4 Pilar MPR RI

***

Manado, “Modal makan dan tampang doang”. Kalimat sinis ini mulai terkikis. Sumbang prestasi anak muda manado masakini, bukti sedang mengikis paradikma lama soal porsi  makan, kecantikan dan ketampanan orang manado yang katanya tidak sebanding isi prestasi.

Terbalik. Akhir-akhir ini Manado sering jadi primadona tingkat nasional bahkan internasional. Coba cari, banyak prestasi darah warga Sulut menjuarai beberapa perlombaan bergengsi tingkat nasional.  Riset ke google. Sulawesi Utara (Sulut) cukup mendominasi prestasi. Tak hanya perstasi, pujian beberapa forum tingkat nasional, Manado jadi pusat perhatian panitia dan peserta lainnya.

Persis yang di alami keempat Netizen utusan Sulut, Surya Anggawirya Zas (Koordinator) Guntur Tangkudung, Heidi Kristian Repi dan Faradila Bachmid. Melalui  kumpulan blogger, vlogger, youtuber dan pegiat media sosial lain, melakukan kopi darat dalam kegiatan yang digagas Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI. Pengalaman mereka berjumpa dengan Netizen dari 11 Provinsi, selama kegiatan tiga hari di Jakarta, berkesan menuai pujian.

Blogger Manado jadi ujung tombak kegiatan Netizen MPR RI. Tak sekedar pujian fisik, tampan dan cantik, Surya Anggawirya Zas bersama Faradila Bachmid ditunjuk mewakili peserta Netizen seindonesia untuk memandu Deklarasi yang terkumandang di Gedung Nusantara V, MPR RI, Jakarta, Minggu (9/12/2018).  



Adapun isi empat poin deklarasi yang dipandu oleh Blogger Manado dan diikuti seluruh Netizen seindonesia, Pertama, setuju untuk tidak menyebarkan konten hoax dan SARA. Kedua, bijak bermedia sosial sesuai dengan pancasila. Ketiga, menerapkan empat pilar MPR RI dalam literasi digital. Keempat, bersatu membuat keren Indonesia dengan konten yang positif.
Pujian positif terhadap Empat Netizen utusan Sulut itu, memang sudah bermula sejak kehadiran mereka di hari pertama.

Hari Pertama, Seluruh peserta Netizen registrasi diri. Luar biasanya, Netizen Manado lebih dulu duduk di meja registrasi. Mereka tiba sebelum panitian tiba. Selanjutnya, makan malam bersama, dan mengikuti pembukaan kegiatan tepat di hotel sultan Jakarta (7/12/18). Tampang keempat orang itu mulai menarik perhatian. Ruangan seolah penuh bunga. Mata para panitian dan netizen lainnya seraya tak sabar ingin berkenalan.

“Wow.. Selamat datang Netizen Manado. Wah Anda-Anda Sangat ganteng dan Cantik” Sambut pembawa acara.

Pertemuan itu di awali dengan perkenalan. Masing-masing menyebutkan nama, asal, dan alamat blogger, vlogger, youtuber dll. Dan lagi-lagi, Netizen Manado tampak kembali menarik perhatian, Perkenalan mereka memesona.

Sememesona status keterlibartan mereka sebagai penggiat media social dan eksis di dunia Blogger.

Adalah Surya Anggawirya Zas, selaku koordinator Sulut, Surya memiliki banyak situs website. Programer, dan memiliki ide cerdas soal perkembangan dunia cyber. Begitupun, Guntur Tangkudung, perkenalannya cukup memikat hati. Selain tampangnya yang agak korea-koreaan, ia adalah Seorang wartawan sekaligus blogger yang eksis menebar konten-konten positif, karya jurnalistiknya bisa terakses melalui “manadopedia(dot)com”. Faradila Bachmid, wanita Netizen Sulut yang hadir saat itu. Barangkali, Anda sudah mengenalnya. Ia dinubuatkan sebagai duta wanita literasi Sulut. Ia pun pernah peroleh juara Provinsi Satu Indonesia Aword 2017. Dan perkenalan terakhir, Heidi Kristian Repi. Sosok satu ini sedikit mengheningkan ruangan ketika ia berdiri dan akan memperkenalkan diri. Ditambah, penggunaan kemeja putih yang cukup elegan, menyempurnakan perkenalannya. Sehingga, perkenalannya seraya sedang dinanti-nantikan. Heidi Kristian repi adalah guru, sekaligus eksis membuat konten blog. Profil lengkapanya dapat di akses melalui “heskihendom(dot)com”.



Keempat Netizen Sulut itu, tak hanya berhasil menarik perhatian hari pertama. Di hari keduapun mereka makin menjadi pusat perhatian. Selain makin eksis, dan menjadi prioritas pertimbangan kala akan menuangkan beberapa gagasan segar baik isi point deklarasi dan rancangan aksi-aksi positif sebagai warganet, perhatian tertuju karena  porsi makan pagi  Netisen Manado di hari kedua itu terlihat sedikit menusuk mata.

Hari Kedua, Sabtu, 08/12/2018, hari paling menguras energi. Sebab, di hari ini, Netizen diajak menemui beberapa lokasi penting. Yakni, Ke gedung MPR RI, Setelah itu, Museum Macan, selanjutnya ke Kota Tua dan akan makan malam bersama di resto Jimbaran Ancol. Sebelum berangkat, Netizen harus makan pagi di Hotel Sultan.
Ini menarik. Manado di kenal jago makan. Namun, kali ini, porsi makan pagi empat Netizen sulut itu menusuk mata Netizen lainnya. Meski mereka tahu, ini hari berat. Banyak aktifitas Fisik, namun keempar Netizen Sulut memilih menu buah dan air putih. Sekarang, pandangan mereka bukan lagi keheranan kerena porsi makan menggunung bak gunung lokon, namun mereka heran dengan pilihan menu pagi mereka yang terlihat sederhana.
“Wah. Bukannya orang manado jago makan bang ?” Tanya heran sahabat Netizel asal Malang
“Iya. Tidak semua Orang Manado seperti itu teman, kalo kami, nantilah kau lihat saat makan Siang dan malam. Baru kamu tahu aslinya”
Hening, dan tawa mereka terbelah.

Hari Ketiga, Minggu, 9/12/18. Kegiatan akan usai di hari ini. Mengakhirinya, Netizen kembali terundang  datang ke Gedung Nusantara V MPR RI. Penutupan kegiatan bersama Sekretaris Jenderal MPR, Dr Ma'ruf Cahyono SH. MH. Nah, disinilah peran puncak kedua Perwakilan Netizen Sulut. Surya dan Fara, menjadi pusat perhatian saat deklarasi dikumandangkan tepat didepan peserta Netizen se Indonesia, dan seluruh panitia lainnya.


Persisi yang diliput oleh catatan Jurnalis dari Manado Pedia, salah satu Peserta Netizen MPR RI, bahwa, Dua wakil asal Sulawesi Utara ini terpilih membacakan deklarasi mewakili netizen seluruh Indonesia. Total ada empat poin dalam Deklarasi Netizen tersebut.

Usai membaca deklarasi, Surya didampingi sejumlah netizen langsung memberikan lembaran deklarasi yang sudah dibingkai kepada Sekretaris Jenderal MPR, Ma’ruf Cahyono

Terpilihnya pasangan asal Sulut menjadi pembaca deklarasi ternyata bukan tanpa alasan.

Panitia pusat Deklarasi Netizen MPR RI, Mira Sahid mengatakan ada beberapa faktor sehingga dua tokoh muda asal Sulut dipilih sebagai deklarator empat poin penting itu.

“Kedewasaan netizen Sulawesi Utara sudah terbukti. Ketika ada isu yang riskan merusak stabilitas keamanan, semuanya langsung saling mengingatkan,” kata penulis buku Secangkir Kopi untuk Blogger ini.

Mira salut dengan tuah slogan Torang Samua Basudara, Baku-baku bae kong baku Inga, dan Torang Samua Ciptaan Tuhan yang begitu menjiwai kehidupan warga Sulut.

“Pencipta slogan ‘Torang Samua Basudara’ adalah Pak (EE) Mangindaan. Beliau kini menjabat wakil Ketua MPR, yang selalu berjuang menggaungkan empat pilar kebangsaan,” jelasnya.

Lanjut dia, kedewasaan dan kesadaran netizen Sulut diharapkan bisa tercipta di seluruh pelosok nusantara, agar masyarakat Indonesia selalu mengedepankan persatuan dalam bingkai NKRI.

Surya dan Dila kata Mira, juga mewakili sosok tokoh muda yang getol memberikan informasi dan pencerahan di blog, web dan media sosial.
“Surya mewakili generasi muda melek teknologi yang menggunakan kecakapannya untuk merawat kebhinekaan dan persatuan NKRI. Dila adalah seorang wanita pegiat literasi digital yang berjuang untuk mencerdaskan masyarakat,” jelasnya.

Surya Anggawirya Zas mengaku tak menyangka ditunjuk menjadi pembaca deklarasi Netizen. Dia menyatakan kebanggaannya mengharumkan nama daerah di tingkat nasional.

Ketua Blogger Manado ini berjanji, hal yang diterima dalam pertemuan tingkat nasional ini, akan diteruskan kepada netizen di daerah.

“Banyak hal yang dipelajari dalam kegiatan ini. Tiga hari kami saling berbagi ilmu dan pengalaman untuk saling melengkapi. Intinya, kami siap berkolaborasi dengan pemerintah untuk kemajuan bangsa,” janjinya.

Hal sama juga dikatakan Faradila Bachmid. Bagi dia, pengetahuannya di bidang literasi digital akan terus dibagikan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.

Diketahui, 44 orang Netizen dari 11 kota Indonesia, diundang khusus menghadiri pertemuan dengan Sekretaris Jenderal MPR. Mereka adalah kelompok blogger, youtuber dan influencer.

Sebelum pertemuan dengan Sesjen MPR, para pegiat media sosial tersebut merumuskan konsep, hingga akhirnya mengambil kesimpulan empat poin.

MPR dan para netizen sepakat sama-sama berjuang mengembalikan identitas dan keluhuran Indonesia yang kini dinilai mengalami degradasi nilai.

Netizen juga berjanji turut menyosialisasikan empat pilar kebangsaan yang selama ini didengungkan MPR hingga menjadi nafas masyarakat Indonesia.

Empat pilar itu adalah Pancasila, UUD 1945, Bhineka Tunggal Ika dan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

***