Astral Projection : Bum.. Ada ledakan

Iklan Semua Halaman

Astral Projection : Bum.. Ada ledakan

Selasa, 18 Desember 2018



"Takdir seolah lebih berpihak dengan keputusannya"

Akhir2 ini mimpi2 ini begitu menguras energi. Harusnya, bangun pagi tubuh segar. Malah, yang kudapati, diri begitu lesu. Seolah, peristiwa tegang itu nyata terlalui. Apa ini yang disebut Astral projection? Mimpi yang terlihat nyata.

Ada pertempuran. Kedua kubu itu pintar mengatur strategi. Penyerangan2 itu membabibuta. Pasukan2 dimasing2 kubu haus darah. Mereka terlatih bringas. Langsung disikat, ditembak dan ditusuk jika berhadapan dengan lawan. Sungguh mengerikan. Anehnya, aku berada di kubu yang terlihat lebih banyak bertahan dan berjalan mundur. Rasa takut menguasai diri. Semua menunggu waktunya tiba.

Kelompok yang bergerak mundur itu sedang mengulur waktu. Entah apa maksudnya. Yang ku dengan hanya suara teriak panik.

"Pasukan, tahan tembakan. Semua mundur. Kita hanya butu waktu. Ulur saja waktu" teriak kasar salah satu pimpinan pasukan.

Hantaman bom mencengking pendengaran. Mata silau. Nafas tersengal-sengal. Beruntung semua selamat. Namun, ada satu pasukan hancur kaki sebelah. Kaki yang tak lagi berdarah, hangus tersambar ledakan.

Ku tenteng pasukan yang lumpuh itu. Sambil membungkuk berlindung, jaga2 jangan ada penyerangan susulan. Ku tatap mata korban, ia begitu frustrasi. Matanya bak hantu. Ia pun berpesan. Meminta agar ikhlas melepas penyelamatan ini. Misal musuh telah berjarak dekat. Ia bakal melakukan sesuatu.

"Hes. Kase tinggal kita di sini. Ngana trus jo. Kita pe hidop so tipis. Setidaknya, kita mati, boleh sedikit meringankan pertempuran tamang2" pintanya dengan perasaan putus asa.

"nda.. Iko. Ngana kita mesti bawa. Ngana mati, kita juga mati" ku patahkan keputusan brutalnya. Dengan melotot akan berupaya menyelamatkannya.

Namun, takdir seolah lebih berpihak dengan keputusannya. Ia sengaja membanting diri, melepas diri dari cengkraman tanganku di pundaknya yang penuh luka. Ia terjatuh. Dan menodongkan sesuatu tepat di dadaku.

"Hes. Iko kita pe prenta. Kalo ngana nda pigi se tinggal kita sini, kita temba pa ngana?"

Ku tatap matanya. Ku tatap bukan karena takut. Namun, ku lihat ada pesan permohonan.

Keputusannya benar-benar bulat. Langkahku mulai mundur.

Dan, suara bringas terdengar. Bergema semakin dekat.

"Pasukan. Jangan kase ampun. Hantam abis pa dong samua"

'Hes. Capat jo ngana. Lari. Nanti kita lindungi ngana dari sini"

Berat hati, terpaksa ku patuhi. Langkahku begitu cepat. kencang berlari, berharap dapat melindungi diri dan mengatur posisi. Agar bisa memantau kembali keberadaan salah satu pasukan itu.

Namun, ketika fokus pandangku terpaku ke depan, sekitar 200 meter terdengar ledakan.

"Bum....."

Menyusul suara dari langit.

"Woy... So siang... Bangun jo. Makang jang kambu lagi ngana pe maag"

Mataku tiba2 melotot. Tatapan kosong. Dan hembuskan nafas legah.

"ah... Semua hanya mimpi"