Si tukang terlambat punya teman berjiwa Korsa

Iklan Semua Halaman

Si tukang terlambat punya teman berjiwa Korsa

Rabu, 14 November 2018



Hari ini, harus pagi benar tiba di sekolah. Tongkat kontrol aktifitas sekolah dipundaki. Setiap hari selasa, terjadwal sebagai guru piket.

Energi harus extra lebih. Sebelum aktifitas sehari dijalani, bangun harus lebih pagi. Agar ada waktu berdoa, dengar lagu happy, lompat2, pemanasan diri sedari tubuh kaku terdiam tidur malam sampai pagi ini. Begitulah setiap pagi. Selanjutnya, mandi, lambung pun tak lupa ku penuhi. Nasi dan ikan sisa semalam rata ku sikat.  Setelah itu, Ku lihat jam, dan bergegaslah jalan. “Aku sangat siap ke sekolah”

Tiba di sekolah. Peserta didik tampak rajin bersih ruang kelas serta halaman sekolah. Meski ada juga sebagian siswa, datang pagi tidak berbuat apa-apa. Merenung, bercanda, bahkan nganggur di balik kesibukan temannya.

Tersenyum saja melihatnya. Mereka peserta didik yang memang harus diarahkan. Bahkan, kita sebagai guru pun sering demikian. Tanpa diarahkan, guru saja lupa diri, nganggur dari tanggung jawab. Itulah mengapa, butuh fungsi kontrol. Kita manusia butuh alaram pengingat, “mesin” pengarah. “Mesin” pengarah itu bisa lahir dari diri sendiri, ada pula dari orang lain. Nah, disinilah tugasku. Menjadi “mesin” pengarah untuk semua. Baik guru maupun peserta didik di sekolah.
Sebagai Guru piket, ku sadar, aku lah yang harus mengarahkan semua. Guna kembali mengingatkan kepada semua, tentang apa yang harus dipatuhi dan ditindaki bersama.

Pertama, harus apel pagi sebelum aktifitas transfer pengetahuan. Syukur cuaca tidak hujan. Tepat jam 7 pagi, ku pukul kencang bell sekolah yang kian berkarat itu. Seluruh peserta didik tersadar, apel pagi dimulai. Hampir 185 peserta didik tersingit-singit bak kantung di bawah reba. Berlarian menuju barisan masing-masing.

Ku lebih dulu berdiri rapi tepat menghadap barisan seluruh peserta didik dari kelas 7  sampai kelas 9 itu. Ku tatap dingin. “Merekalah Wajah-wajah masa depan bangsa”
Ku coba membatuk, seraya menyetel suara, dan berkata “Piket… Mulai”
“Tapi pak…? teman2 Masih ribut”
“Mulai saja, bapak mau lihat, siapa biang keributan ini”
“Baik Pak” Patuh siswa

Hampir setiap hari, piket berlangsung tegang dan penuh bentak dari guru. Pendisiplinan peserta didik setiap apel pagi banyak memakan waktu. Bahkan arahan inti yang harusnya terkandung konten motivasi, tipis tersampaikan oleh guru piket. Itu yang sering terlaksana. Tak heran, iklim pendidikan harusnya bergairah merdu, malah tegang  mendominasi mental siswa. “Mereka hanya butuh ketegasan dan komitmen, bukan kasar” demikian hati ku membatin.

Tugas piketku hari ini, sangatlah enjoy namun tegas. Memang, saat ada arahan pertama, beberapa peserta didik mulai sumbang suara. Situasi mulai ribut. Namun, tak ku marah, atau pun ku bentak secara kolektif. “Harus sabar.. harus selesai arahan baru mencari sumber keributan” hati berbisik tenangkan diri.

Dan, situasi memuncak. Para penyumbang suara itu mulai menguasai panggung. Suaraku kian tertelan oleh suara peserta didik. Yang harusnya diam dan mendengar, malah, semakin berani bertingkah. Mulai ada yang ganggu kawan disampingnya. Seolah mengajak kalau tidak lah masalah jika berdiskusi kalau ada arahan dari guru piket.

“Sudah waktunya” Ku pun menghentikan arahan. Tanpa suara, dan menyisir barisan dengan tatapan licin.
Benar sekali perkiraanku. Sumber keributan itu sama sekali tidak menyadari tatapanku. Mereka benar memiliki dunia sendiri. Tak ku marah, tapi mengarahkan.

Ku ajak peserta didik yang patuh tuk berdemokrasi. Menunjuk orang2 yang mengganggu barisan.
Alhasil, dapat 10 orang yang ditunjuk teman mereka sendiri karena menggangu kedisiplinan apel pagi.

Seketika itu juga, ku pisahkan 10 orang itu, membentuk barisan sendiri di sebelah barat dari berisan teman2nya yang lain.

Setelah semua kembali  tenang, arahan dilanjutkan, dan sampai selesai apel, tak ada lagi suara sumbang.
Keributan itu ternyata dipicu oleh 10 orang saja. Dan menjangkit 185 peserta didik lainnya.
Selesai apel pagi, peserta didik kembali ke kelas masing-masing. Ku pun berbalik arah, berencana memukul kembali bel sekolah, sebagai tanda masuk Jam pertama. Dalam perjalanan, tiba2 ada salah satu siswa teriak serius “Pak Ada yang terlambat. Nda Iko Apel”
“Arnol Lagi” Sembari Tarik nafas dan berprediksi dalam hati
Ku pun balikan badan mengarah ke sumber suara siswa “Siapa yang terlamabar ?”
“Arnol PaK”
“Huf… Benarkan, Panggil dia kemari”

Arnol. Siswa ini bertubuh ramping. Kurusan. Jika dibandingkan dengan tubuhku waktu SMP dulu, Arnol sedikit masih lebih berisi. Arg….
Arnol terlambat lagi. Ia juara terlambat dan jago bolos. Sudah segala pendekatan dilakukan oleh seluruh guru demi membantu Arnol patuh aturan sekolah. Arnol sepertinya sudah kebal sangsi. Anehnya, ia terlihat menikmati sangsi tersebut. Kali ini Arnol ku beri dua pilihan sangsi.
“Arnol, pilih sangsimu. Mau bersih WC atau angkat sampah  ?”
Cepat Arnol menjawab  “Angka sampah Jo Pak”
“Baik, itu pilihanmu. Silakan menebus kesalahanu, selamat bekerja”
“Sampah dimana pak” Tanya Arnol
“Sampah dari kelas 7-9”
Mendengarnya, Arnol pun langsung mengerutkan dahi, dan langsung menuju lokasi kerjanya. Arnol memulainya dari kelas 9 Satu.
Dari sana, ku melihat ada pemendangan hebat setelah proses sangsi ini berlangsung. Sambil mengawasi Arnol, tiba2 ada satu siswa datang dengan mata permohonan.
“Pak, boleh kita bantu Arnol?”
“Bantu apa ?”
“Mo baku bantu Angka sampah”
Sungguh hatiku terpukul. Lingkaran pertemanan Arnol ternyata bisa seperti ini. Ia punya teman sepenanggungan. Arnol dibantu temannya yang sama sekali tidak ada masalah.
Mendengar perminataan teman Arnol, ku pun tak menghalang niat baiknya.
“Baik. Jika itu maumu”
Pekerjaan tuntas. Arnol terbantu.
Arnol masuk kelas.
Ku masih penasaran dengan sangsi yang diberikan. Apakah, hal ini bisa ada efek jerah ? Pekerjaan Arnol dibantu temannya. Tentu ini meringankan sangsinya.
“Jika Arnol menerima keringanan sangsi dari temannya, mengapa tidak, jika temannyalah yang membantu Arnol tuk sama2 menjadi siswa yang patuh aturan sekolah?”
Dari situ, pikiranku tertuju pada sosok sahabat Arnol. Sahabat yang suka rela, lelah bersama. Ku panggil sahabat Arnol. Masuk ruang BK.  Dari situ, ku ajak teman Arnol bekerja sama demi kebaikan Arnol sendiri.
Semoga kali ini bisa berhasil. Membantu Arnol sadar bukan karena sangsi. Tapi, karena pendekatan hati ke hati.