Dendam Siswa bodoh, tidak tahu menulis

Iklan Semua Halaman

Dendam Siswa bodoh, tidak tahu menulis

Kamis, 09 Agustus 2018
Siswa/i Daerah Kepulauan Talaud

Karena dari penderitaan kita terbentuk dan dibentuk. Kita akan peka mengasihi seseorang sebab kita tahu dampak kejatuhan.
Kita hebat karena proses yang rumit.
***
Keringat bercucuran bak hujan yang dipaksa awan.
Ada kalanya, mudah bagi siswa lainya, namun begitu rumit bagi orang lain.
Salah satunya, katakan saja, namanya Mesak.
Menulis namanya saja di lembar identitas dirinya butuh waktu lama. Bahkan ia seolah tersiska dengannya.
Kepanikan itu nyata terlihat dari gerak geriknya, keringan membanjiri kertasnya.
Betapa ia tak sanggup lagi. Ia menunggu agar dimengerti oleh guru. Kalau dia harus dibantu. Harus di suap persis kebiasaan guru2 lainnya yang langsung menerima kekurangannya.
Namun, kali ini ia bertemu dengan sosok guru nan berbeda.
Ia tak lagi di suap. Melainkan ia dibentuk. Ia dimotivasi. Ia diberi solusi. Ia terus dilatih.
"Bukan soal seberapa cepat, tapi seberapa hebat upaya dan usaha mu nak" Bisikku
***
Syukur. Tiga hari setelah penyandraan itu. Ia sudah bisa menulis namanya sendiri.
Dari kegembiraan itu, kini timbul masalah baru.
Dinding sekolah mulai dipadati namanya yang dengan bangga, ia mau tunjukan ke semua umat, bahwa ia sudah bisa menulis.
Kekeliruan tindakannya yang mencoret2 dinding, seolah membalas hinaan yg pernah ia rasakan. Ia pernah di ejek "siswa bodoh, tidak tahu menulis"
Kali ini, sikap mu yg harus di bina.